Senin, 06 Juni 2011

Tak Mampu Beli Seragam Sekolah, Anak Drop-out

Di saat orang-orang terhormat para pemimpin negeri ini terkena skandal suap uang miliaran rupiah yang kasusnya makin bertele-tele, sebagian warga bangsa ini justru terpuruk akibat tak mampu membeli seragam sekolah. 

Sahawiah penduduk Polewali Mandar, Sulawesi Barat hidup terpencil karena kemiskinannya. Ibu dua anak itu tinggal jauh dari rumah warga lainnya karena memang tak memiliki lahan untuk tempat tinggal.

Mirnawati (18) dan Irwan (16) adalah anak-anak Sahawiah yang tak pernah mengenyam bangku sekolah. Aktivitas sehari-hari dua remaja itu tak lain membantu ibunya di sawah. Mereka tidak sekolah karena ibunya tak mampu membiayai pendidikannya. Sementara itu, ada tiga anak lainnya yang sempat sekolah tapi kini berhenti karena mereka malu tak bisa mengenakan seragam sekolah. Anak-anak itu merasa malu dan minder tidak memakai seragam sekolah. Menurut lembaga pemerhati anak setempat, anak-anak ini sebenarnya mempunyai prestasi yang baik di sekolah, dua di antaranya selalu masuk 10 besar. Sayangnya, orang tua mereka tak mampu membeli seragam sekolah.

Sahawiah tinggal di gubuk renta beratap rumbia yang ditopang kayu biasa. Rumah tinggal Sahawiah berada di antara kawasan hutan dan area persawahan di Kelurahan Ammassangang, Kecamatan Binuang. Setiap hari, keluarga miskin ini hanya menggunakan penerangan pelita yang dinyalakan hanya sampai mereka selesai makan malam. Lampu itu dipakai untuk menerangi dua ruang sekaligus, ruang depan dan dapur.

Pemerhati pendidikan dan anak telantar, Julianti mengatakan untuk biaya empat jenis seragam sekolah per anak sekitar Rp 500 ribu. Sahawiah tak mampu jika harus membelikan seragam sekolah bagi tiga anaknya meski biaya pendidikan gratis. Julianti berharap akan ada bapak atau ibu angkat yang bersedia membantu ketiga anaknya yang kini masih layak menyelesaikan pendidikan dasarnya bisa membantu meringankan keluarga miskin ini.
www.liputan66.com

0 komentar:

Posting Komentar